Deswan sarankan Adakan Rapid Test

Kota Metro, Sketsaindonesia.id – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Metro daerah pemilihan Metro Barat dan Metro Selatan, sarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Metro untuk adakan Rapid Test serta soroti nasib tenaga kesehatan dalam menangani corona virus disease (Covid-19), serta soroti pelayanan aparatur terhadapan antisipasi pencegahan penyebaran virus tersebut, Minggu (05/04/2020).

Anggota DPRD daerah pemilihan (Dapil) Metro Barat dan Metro Selatan, Ir. Deswan, mengungkapkan bahwa aparatur negara harusnya memiliki rasa perduli yang lebih, dengan siap sedia selama 24 jam, meski di hari libur di dapilnya tersebut.

“Sebagai aparat negara harusnya mereka lebih perduli dengan keadaan-keadaan yang terjadi saat ini. Artinya standby 24 jam, bagaimana keadaan ketika ada masyarakat yang keluar masuk, juga orang-orang dari luar yang tiba-tiba masuk, itu harus dipantau betul. Meskipun hari libur, karena ini menyangkut waktu jika terlambat menyikapi maka akan berakibat fatal. Siaga 24 jam itu dalam arti diadakan shift-shiftan. Diatur ada yang pagi, sore dan malam hari. Terutama di pintu-pintu masuk perbatasan Kota Metro. Disiapkan alat pengukur suhu. Kalau memang dicurigai ada tanda-tanda terjangkit diadakan rapid test. Didata asal daerahnya dan akan tinggal dimana di daerah Metronya,” ungkapnya.

Ia juga menyarankan untuk mengadakan Rapid Test.

“Kalo memang alatnya kurang diadakan pengadaan Rapid Test itu, kalo perlu kita beli sendiri alat Swab dari Korea seperti di Provinsi Jabar, kalo gak salah harganya sekitar 4 Miliyar. Jadi kita gak perlu lagi harus nunggu hasil test dari Jakarta. Itulah penggunaan dana 29 M yg dialokasikan itu,

Lalu, menyarankan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Metro untuk menyiapkan peringatan tegas kepada aparatur sipil negara yang terkesan tidak perduli kepada masyarakat.

“Harusnya pemkot menyiapkan peringatan tegas kepada aparatur, supaya betul-betul standby setiap waktu. Jangan melihat ini hari sabtu atau hari minggu, atau selasa dan sebagainya, karena saat ini situasinya gawat lah. Kita tidak tahu orang yang dateng dari luar itu di hari minggu, atau malam minggu, itu harus betul-betul dipantau. Dan perlu dibentuk Satgas sampai dgn tingkat RT/RW,” kata dia.

“Intinya mumpung di Metro ini masih blm ada yg positif kita fokuskan jgn sampai ada yg positif. Krn kalo ada satu saja yg positif, maka dampaknya cukup luas dan sulit terkendali. Keluarga, Tenaga kesehatan yg menanganinya, tetangganya dll yg pernah berhubungan akan mempunyai resiko besar utk terjangkit,” imbuhnya.

Faktor yang menyebakan penularan tak terkendali ialah karena tak terpantau. Kemudian, dirinya juga berharap kepada seluruh masyarakat untuk wajib lapor, begitu juga aparatnya siap sedia.

“Kalau ada warga baru dari luar, atau daerah epidemi, ya harus segera dipantau. Itulah menyebabkan penularan-penularan tak terkendali kan karena tak terpantau, terus diperiksa, kemudian ada masa karantinanya selama 14 hari, itulah yang diharapkan pemerintah pusat. Bagi warga juga diharapkan untuk wajib lapor, ketika baru datang ketempat yang dituju di Kota Metro ini, ya langsung lapor kepada aparat setempat. Begitu juga aparatnya haruslah standby 24 jam. Kalau pun mereka tidak lapor, lalu mendapat informasi langsung dicari dan dipantau,” tutur Deswan.

Dirinya juga menyoroti nasib tenaga kesehatan, sebagai garda terdepan dalam penanganan covid-19.

“Perhatikan nasib tenaga kesehatan. Lengkapi APD nya dan berikan insentif. Untuk membangkitkan semangat mereka dalam memberikan pelayanan. Karena tenaga kesehatan itulah sebagai ujung tombak atau garda terdepan dalam penanggulangan Covid -19 ini,” tegasnya.

“Kota Metro ini kan bukan merupakan Zona Merah, sehingga belum menerapkan PSBB. Jadi alokasi anggaran sebesar 4,4 M dari APBD untuk jaring pengaman sosial justru belum perlu. Sudah ada program itu dari dana Pusat seperti bantuan untuk PSH, Pra Pekerja, Subsidi Listrik, dan sebagainya,” tambah Deswan. (red/ran).




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *